Perangkat Mengajar (Silabus-RPP)

School Stress Buster

As the schools’ syllabuses get complex and workload increase, students are bound to be stressed at times. Stress is part and parcel of life and learning to cope with it is part of the objective of an education. Here are 8 important concepts to follow to make your time in school a pleasant one:


1. Why?

Identify all the positive reasons for all the hard work and effort you are putting into getting good grades. Is it for yourself and your parents, or for your relatives? Is it so that you can become a pilot, lawyer or a teacher? These reasons should be empowering or perhaps put a smile on your face when you think about them.

2. Stationary

Being well stocked with pens, pencils, ruler, eraser, writing pad and files ensures that you need not worry about not having any basic material on hand. Acquire the good habit of filing and adopt an organized system of filing, so that you know exactly where to find your notes and worksheets when you need to. This saves you a lot of time.

3. Punctuality

Be on time for all your classes. Dragging your feet into lessons and being late will not please your teacher and it adds to everyone’s negative vibes about each other. The same goes for your homework. It is best to plan to finish your work before deadlines, not right on deadlines. You tend to be late when you plan to finish just on time.

4. Ask

Your teachers have an abundance of subject resources with them. If you need any help at all, always approach them. They will be more than happy to direct you to resources or even give some of their own to you. If you need help with some of your weaker subjects, do not hesitate to ask for tuition.

5. Interesting Subjects

When you have a choice of which subjects to take or which topics to work on for projects, always choose those for which you have the most interest. This makes learning fun for you and you are usually much more productive. Avoid choosing topics/subjects just because you think they will impress your teacher or your friends,

6. Schedule

Allocate specific time slots everyday for homework and leisure. It is normally advised that you clear up your work first before relaxing. It is always better to allocate slightly more time than is needed than to underestimate, because not being able to finish up work usually leads to panic.

7. Study Environment

Make sure you have a quiet and pleasant environment for learning. Having a proper chair and table of the correct height will save you from getting aches and cramps. Your table should be clean. Having it too cluttered normally disturbs you subconsciously. Take 5 minute breaks after every hour of study to rest your body and mind. You will come back more refreshed and more productive than before.

8. Study Style

The best style of studying that has proven to work is through regular revision. You tend to feel more prepared for classes and ready to do your homework when you follow this style. To read more about this, refer to this article.

by: Justin Lee

About the Author

The author is the founder of two education businesses, www.Shimes-Education.com and www.AceTutors.com.sg.


Read More..

Learning Mathematics for Life: A Perspective from PISA

People from many countries have expressed interest in the tests students take for the Programme for International Student Assessment (PISA).

Learning Mathematics for Life examines the link between the PISA test requirements and student performance. It focuses specifically on the proportions of students who answer questions correctly across a range of difficulty. The questions are classified by content, competencies, context and format, and the connections between these and student performance are then analysed.

This analysis has been carried out in an effort to link PISA results to curricular programmes and structures in participating countries and economies. Results from the student assessment reflect differences in country performance in terms of the test questions. These findings are important for curriculum planners, policy makers and in particular teachers – especially mathematics teachers of intermediate and lower secondary school classes.

Table of contents

*
Chapter 1 - PISA 2003: Introduction
*
Reader's Guide
*
Chapter 2 - Main features of the PISA mathematics theoretical framework
* Chapter 3 - A question of difficulty: questions from PISA 2003
* Chapter 4 - Comparison of country level results
* Chapter 5 - The roles of language and item formats
* Chatper 6 - Mathematical problem solving and differences in students' understanding
* References
* Annex A1 - PISA 2003 Mathematics assessments: characteristics of questions used
* Annex A2 - Other examples of PISA mathematics questions that were not used in the PISA 2003 mathematics assessment
* Annex A3 - Traditional domains and PISA items
* Annex A4 - Word-count and the 3 Cs - analysis of variance
*
Annex A5 - Analysis of variance related to item format
*
Annex A6 - Mathematics expert group



Read More..

Bandung Tours




Bandung also known as Kota Kembang (flowers city), Bandung about 140km from Jakarta-Indonesia. Bandung city regarded as the fashion center for Indonesia. Most goods and the latest fashion appeared in this city first, Bandung has so many factory outlets. On holidays, this city full of traffic because many people from other cities visit Bandung. Therefore, if you visit Bandung on holiday, it is good to use a bike to go around the city. Well I visited Bandung last week, even though the traffic kinda annoying but I still enjoyed the tour. Bandung is a metropolitan city you should visit. For me, if thinking about Bandung, i'm thinking about shopping and party. Hey... I bought a lot of good stuff at a low price in Bandung. Hoho...Shopping & party, Yay!


Read More..

13 Dosen Diberangkatkan ke Belanda

Nuffic Neso Indonesia melalui program beasiswa Studeren in Nederland (StuNed) atau studi di Belanda memberikan beasiswa kepada 13 pengajar dan 3 orang staf dari Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi untuk mengikuti tailor made training di Royal Tropical Institute (KIT) Amsterdam, Belanda.

Pelatihan bertema “Developing Integrated Surveillance System in Public Health Training” ini diikuti para dosen yang terdiri dari sembilan perempuan dan tujuh pria dari tujuh universitas dari seluruh Indonesia. Lima di antara universitas tersebut adalah perguruan tinggi di luar Pulau Jawa, yaitu Universitas Mulawarman (Samarinda), Universitas Hasanuddin (Makassar), Universitas Udayana (Denpasar), Universitas Mataram (Mataram), serta Universitas Cendrawasih (Jayapura).

Selain itu, tiga orang staf madya yang mewakili Departemen Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi/Kota juga ikut serta dalam pelatihan ini selama enam minggu. Adapun selama enam minggu ke depan seluruh peserta itu akan mengikuti pelatihan di dalam kelas dan studi lapangan.

"Mereka diharapkan mendapatkan teknik, metode, model monitoring dan evaluasi indikator kesehatan yang berguna untuk mengambil kebijakan," kata Bambang Wispriyono, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia (FKM-UI), usai pelepasan peserta pelatihan di kampus UI Depok, Jumat (15/1/2010).

Sementara itu, menurut Direktur Nuffic-Neso Indonesia, Marrik Bellen, mengatakan keikutsertaan mereka dalam pelatihan tersebut merupakan bentuk kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap Belanda, baik sebagai tempat referensi, pengetahuan tentang integrated surveilance, serta pengelolaan kesehatan masyarakat di Belanda.

Bellen menambahkan, program tersebut akan terus dikembangkan hingga lima tahun mendatang dengan Indonesia. Dengan Indonesia, kata dia, Pemerintah Belanda memiliki hubungan khusus dan telah menyiapkan anggaran senilai 30 juta euro.

Pemerintah Belanda akan terus mengembangkan program tersebut hingga lima tahun mendatang bersama Indonesia.


Read More..

Guru Perlu Kreative Agar SiswaTak BeTe

Cukup banyak guru-guru mengatakan merasa capek atau lesu apabila harus segera masuk kelas untuk melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam pengontrolan absensi, hampir setiap hari ada surat-surat guru yang datang mengabarkan halangan mereka untuk tidak datang ke sekolah.
Pada umumnya alasan serius atau alasan berpura-pura guru dalam suratnya sehingga berhalangan untuk tidak hadir di sekolah karena sakit. Sering alasan lain adalah untuk memohon izin karena ada urusan keluarga yang sangat mendesak. Kalau kita fikirkan siapakah orang di dunia yang luput dari urusan keluarga. Tetapi rasanya tidak logis kalau seorang guru sempat dalam satu bulan membuat alasan sepele dan berhalangan untuk mengajar sebanyak sekian kali. Dan alasan sepele ini cukup banyak dilakukan oleh guru-guru.
Dapat dikatakan, buat sementara, bahwa keabsenan guru-guru dari sekolah alasan, berpura-pura dalam alasan, karena rasa tersandung oleh bosan selama proses belajar mengajar. Kemalasan guru-guru yang lain sering terekspresi dalam bentuk kelesuan setiap kali harus menaikkan kewajiban dalam PBM. Meskipun bel tanda masuk telah berbunyi beberapa menit yang lalu namun masih banyak guru-guru yang ingin menyelesaikan gosip-gosip ringan sesama guru. Malah ada sebagian guru ada yang sengaja hilir-mudik atau berpura kasak-kusuk dalam mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Sampai akhirnya selalu terlambat tiba di kelas dan kemudian sengaja pula agak cepat untuk meninggalkan kelas.
Kebosanan dalam PBM disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor yang berasal dari guru dan faktor yang berasal dari murid.
Pengabaian kedua faktor ini akan menyebabkan masalah dalam PBM tidak teratasi. Untuk memuluskan PBM maka kedua faktor ini harus dipahami dan diatasi.
Rata-rata guru merasa enggan untuk memasuki kelas-kelas dengan siswa mempunyai daya serap rendah atau bodoh. Gairah mengajar guru untuk mengajar kerap kali terpancing karena di dalam kelas ada beberapa orang siswa yang cukup pintar.
Namun sejak keberadaan kelas unggul di setiap sekolah maka siswa-siswa yang memiliki daya serap tinggi terkonsentrasi ke dalam satu kelas saja. Maka gairah guru untuk melaksanakan PBM hanya lebih tertuju untuk kelas unggul.
Sedangkan untuk kelas-kelas non unggul yang jumlahnya cukup banyak dengan kemampuan siswa rendah terpaksa dimasuki oleh guru dengan rasa lesu dan letih. Tentu tidak semua guru yang menunjukkan gejala yang demikian.
Pada umumnya penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah adalah karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisa.
Kebiasaan dalam belajar cuma menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam PBM.
Tidak banyak siswa yang terbiasa dengan budaya membaca sehingga akibatnya adalah tidak banyak pula siswa yang memiliki daya serap tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali orang tua yang ikut campur dalam masalah waktu anak dan gemar “mencikaraui” anak akan menjadikan anaknya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.
Faktor yang datang dari guru cukup bervariasi. Dulu menjadi guru memang serba dihormati dan tentu saja menyenangkan. Tetapi belakangan ini, bahkan terlalu banyak korban perasaan apalagi semenjak remaja banyak mengalami emosi moral.
Karena terus terang saja, siswa-siswanya terdiri dari anak-anak yang kebanyakan tidak diwarisi nilai agama yang mantap oleh orang tua. Ada juga siswa yang merupakan anak-anak pejabat yang kaya-kaya dan anak orang berada sedangkan guru-gurunya miskin.
Faktor yang menyebabkan guru merasa bosan dalam PBM mungkin karena kelelahan. Barangkali ia memiliki jumlah jam yang terlalu banyak.
Walau pada sekolah pengabdiannya hanya mengajar beberapa jam saja, tetapi karena tuntutan hidup ia menjadi guru sukarela pula pada suatu atau dua sekolah lain. Atau bisa jadi karena kelelahan fisik setelah menjadi guru selama puluhan tahun. Sering kita lihat para guru-guru tua yang belum sudi untuk pensiun merasa segan untuk melakukan PBM.
Secara mayoritas guru kelihatan kurang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Mereka tidak banyak membaca, walaupun sebatas membaca koran dan majalah, sehingga jadilah ilmu pengetahuan mereka sempit dan dangkal. Kebanyakan guru-guru sehabis mengajar ya habis begitu saja. Begitulah kegiatan rutin mereka hari demi hari sampai akhirnya rasa bosan menyelinap ke dalam fikiran.
Ada guru yang memiliki ilmu pengetahuan yang cukup luas dan cukup hangat dalam bergaul bersama siswa. Namun juga sering mengeluh bosan untuk melakukan PBM sehingga mengajar secara serampangan dengan metode kuno sepanjang hari. Guru yang seperti ini sebaiknya harus segera melakukan introspeksi diri dan kemudian memutuskan apakah karir sebagai guru cocok baginya atau tidak. Tetapi pada umumnya mereka tetap bertahan mengajar dalam kebosanan karena tidak mampu mencari pekerjaan jenis lain yang cocok bagi diri, maklum banyak orang terserang sindrom pegawai negeri dengan alasan jaminan untuk hari tua.
Setiap guru banyak terdengar keluhan guru-guru. Ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit gigi, perut terasa kembung atau badan terasa pegal-pegal dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab. Dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif sehingga mereka jarang yang menjadi guru profesional.
Memang secara umum guru-guru terlihat kurang kreatif dan sebagian kecil tentu ada yang kreatif. Rata-rata guru menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka masih berfilsafat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalkannya tanpa melupakan titik dan komanya sekalipun. Penanganan masalah yang ditemui selama PBM pun juga secara tradisional. Kalau murid bersalah musti diberi nasehat dan kebanyakan sistem pemberian nasehat dalam bentuk komunikasi satu arah, dimana yang sering terlihat ketika guru bertutur kata adalah siswa menekur atau tidak boleh menjawab. Tetapi sekarang entah guru-guru banyak yang tidak bertuah dalam bertutur kata karena kesempitan ilmu dan wawasannya atau karena penghargaan murid semakin berkurang karena kurang diwarisi nilai agama oleh orang tua maka sekarang seakan melebar jurang dalam komunikasi.
Kreativitas guru pun terlihat lemah dalam PBM. Presentasi pengajaran sudah terlihat semakin basi karena menggunakan metode itu ke itu juga. Gema hasil mengikuti penataran, apakah dalam bentuk MGMP, sekali sekali dalam bentuk aplikasi. Kecuali yang terlihat adalah setelah guru mengikuti MGMP guru cuma semakin tertib dalam menulis satuan pelajaran tetapi belum bentuk aplikasi.
Diantara guru-guru yang belum lagi mampu memperlihatkan kreativitas, kita juga melihat guru-guru yang kreatif. Meski mengajar banyak, namun karena kreatif mereka tetap tampak ceria dan segar dalam mengajar.
Kreatifitas seseorang, juga guru, sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu menjadi guru ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri. Adalah sangat tepat bila seorang guru selain memahami bidang studinya juga mendalami pengetahuan umum lainnya sebagai khazanah dirinya. Guru yang luas wawasan dan ilmu pengetahuannya akan tidak pernah kehabisan bahan dalam proses belajar mengajar. Kalau sekarang ada ungkapan yang mengatakan bahwa mengajar itu adalah seni, maka mustahillah guru yang kering akan ilmu dan sempit wawasan dapat mengaplikasikannya sebagi seni.
Mengikuti program penyegaran dalam bentuk kegiatan penataran, musyawarah kerja, dan program peningkatan kualitas lain sungguh tepat. Sayang selama ini terlihat kegiatan-kegiatan penyegaran yang ada belum dikemas secara profesional. Dengan arti kata selama mengikuti program penyegaran, guru-guru hanya terlihat secara pasif dan paling kurang bertindak sebagai pendengar abadi. Itulah dampaknya setiap kali seorang guru selesai mengikuti MGMP dan penataran lain, misalnya, seolah-olah tidak membawa perubahan dalam proses belajar mengajar. Terasa seakan-akan apa yang diperoleh selama mengikuti penataran-penataran digambarkan dengan ungkapan “masuk telinga kiri keluar telinga kanan saja.”
Melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dalam bentuk berpidato atau berceramah untuk masyarakat dan menyempatkan diri untuk menulis artikel-artikel adalah bentuk lain dari pengembangan kreativitas guru.
Mendalami psikologi remaja sehingga guru dapat memahami meningkatkan kreativitas guru dalam bertindak. Rata-rata guru yang kreatif adalah guru yang kaya akan ide-ide dan menerapkan bentuk nyata. Dalam realita tampak bahwa kreativitas dapat mengatasi rasa bosan.


Marjohan


Read More..